Kamis, 07 April 2016

Hukum Memperolok-olok dan Menghina Agama Islam

Hukum Memperolok-olok dan Menghina Agama Islam

Soal : Saya melihat banyak para pemuda yang memperolok dan menghina seseorang yang menjaga shalatnya dan menjaga agamanya. Dan saya juga melihat sebagian pemuda ( semoga Allah memberi petunjuk kepada mereka ) berbicara tentang agama dengan meremehkan dan merendahkannya. Bagaimana hukum perbuatan tersebut? Dan bolehkah kita duduk-duduk dan berbincang-bincang bersama mereka diluar waktu shalat?
Jawab : Memperolok-olok Islam atau menghina sebagian ajaran Islam adalah kufur akbar (menyebabkan kafir). Allah berfirman :

قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ, لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman… [At Taubah : 65-66].
Maka barangsiapa yang memperolok-olok dan menghina orang yang melaksanakan ajaran Islam dan menjaga shalat lima waktu berarti dia telah menghina agama Islam. Kita tidak boleh duduk-duduk bersamanya dan tidak boleh bersahabat dengannya. Sebaliknya kita wajib mengingkari dan memperingatkan dia serta memperingatkan orang lain agar tidak bersahabat dengannya. Demikianpula orang yang berbicara masalah agama dengan nada yang menghina dan mencemooh. Orang seperti ini sudah terjatuh pada kekafiran. Kita wajib mengingkarinya dan memperingatkan dia serta menyuruhnya untuk segera bertaubat dengan taubat nasuha, jika dia bertaubat alhamdulillah. Tapi jika dia tidak mau maka kita harus melaporkannya kepada waliyul Amr ( penguasa muslim ) setelah menunjukkan perbuatan-perbuatannya dengan menghadirkan saksi-saksi yang adil, sehingga dia dikenakan hukum Allah oleh Mahkamah Syar’iah. Dalam keadaan apapun, masalah-masalah seperti ini merupakan masalah yang sangat berbahaya, Oleh karena itu wajib bagi para penuntut ilmu dan setiap muslim yang mengerti agamanya untuk memperingatkannya.
Kita memohon kepada Allah agar seluruh kaum muslimin selamat dari segala sesuatu yang bertentangan dengan syari’at Allah. Kita juga memohon kepada-Nya agar Dia menyelamatkan seluruh kaum muslimin dari kejahatan musuh-musuhnya, yaitu orang-orang kafir dan munafik. Dan mudah-mudahan Allah menolong kaum muslimin untuk berpegang teguh dengan kitab-Nya dan dengan sunnah Nabi-Nya dalam segala keadaan. Sesungguhnya Dia Maha pemberi dan Maha Mulia.

Penuhilah Seruan Allah dan RasulNYA

Allah swt  berfirman:
Penuhilah Seruan Allah Dan RasulNYA

Penuhilah Seruan Allah dan RasulNYA

“Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan” [QS. al-Anfāl (8): 24]
Alangkah agung nikmat yang Allah swt anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya, ke-tika Dia menyempurnakan agama-Nya, me-lengkapi nikmat-Nya dan meridhai Islam sebagai agama-Nya, melengkapi nikmat-Nya dan meridhai Islam sebagai agama-Nya.
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepa-damu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agamamu” [QS. al-Mā’idah (5): 3)
Alangkah terhormatnya seorang manusia, saat kembali menuju Allah swt, menerima dakwah-Nya dan melihat jalan lurus yang ada di hadapannya. Itulah peran diri yang harus ditunaikan dalam kehidupannya.
Orang-orang yang mau menerima seruan Allah swt dan Rasul-Nya saw, secara dzahir dan bathin, adalah orang-orang yang hidup, sekalipun jasad-jasad mereka telah mati, orang-orang kaya, sekalipun tak memiliki apa-apa, dan mereka adalah orang-orang mu-lia, sekalipun minim pendukung dan kelu-arga.
Selain mereka adalah orang-orang mati, sekalipun jasad-jasad mereka masih hidup.
Mereka mati tidak hidup, mereka tidak me-nyadari” [QS. al-Nahl (16): 21]
Mereka adalah orang-orang miskin, seka-lipun tumpukan emas memenuhi saku-saku, gudang-gudang, ataupun rekening-rekening mereka. Mereka adalah orang yang diselimuti kehinaan, sekalipun berasal dari keturunan terhormat lagi mulia.
Karena itu, manusia yang paling sem-purna hidupnya adalah mereka yang paling sigap menyambut seruan Allah swt dan Rasul-Nya saw. Mereka hidup dengan-nya dan menyampaikan pesan-pesannya. Setiap apa yang diserunya mengandung kehidupan. Barangsiapa kehilangan salah satu bagian dari peran dakwahnya, maka akan hilanglah satu bagian dari hidupnya. Mereka memiliki kehidupan sebesar per-kenan dirinya mau menerima Allah swt dan Rasul-Nya saw. Allah swt membe-rikan dakwah mulia ini untuk kaum muk-minin, menghimpun mereka dalam pera-saan iman, menyeru mereka dengan nama iman dan mengingatkan mereka tentang kandungan iman. Dia panggil mereka dengan seruan iman, agar mereka siap sedia menyambut dakwah-Nya dengan sungguh-sungguh dan perhatian, siaga dan sepenuh kekuatan. Itulah sikap seo-rang mukmin: Menyongsong perintah-perintah Allah swt dan seruan dakwah-Nya dengan penuh kekokohan jiwa dan kemantapan hati.
“Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami berikan kepadamu” [QS. al-A’rāf (7): 171]
Tidak ada seorangpun yang mampu mengemban dakwah dan bertahan meng-hadapi rintangannya serta mampu hidup dan bergerak di dalamnya kecuali pah-lawan perkasa. Dia adalah ummat yang mela-hirkan generasi beriman yang istimewa, me-nerima al-Kitab dengan penuh komitmen, dan konsekuen dengan kandungannya. Dia-lah ummat yang memiliki risalah dan tujuan mulia, berjuang dan berjihad untuk-Nya.
“Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memi-lih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (al-Qur’an) ini, supaya Rasul itu men-jadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atau segenap manusia” [QS. alHajj (22): 78]
Dia menjadi ummat pemandu dan pemim-pin yang dipilih Allah swt sebagai saksi kunci bagi seluruh manusia, untuk menegakkan keadilan dan kejujuran, serta meletakkan timbangan rabbaniyyah dan nilai-nilai mulia. Dan dia adalah ummat yang adil dan per-tengahan.
“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (ummat Islam), ummat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbu-atan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu[QS. al-Baqarah (2): 143]
Dakwah inilah yang Allah swt tujukan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, dakwah menuju kehidupan. Kehidupan yang beragam bentuknya dan berbeda hakekat maknanya, bukan semata-mata kehidupan. Sebuah kehidupan mulia dan hakikat sem-purna yang membedakan seorang insan de-ngan makhluk-makhluk lainnya. Seluruh makhluk lainnya hidup di alam hewan, ber-gerak dengan dorongan perut dan kemaluan, tidak mengenal tujuan mulia yang harus di-tempuh, tidak pula mengenal risalah hidup yang harus diemban dan berjuang di jalan-nya. Harga dirinya hanyalah beberapa dir-ham yang memenuhi kantongnya, atau sesuap nasi yang memenuhi perutnya, atau sehelai kain yang menutupi jasadnya. Setelah itu, tak ada apa-apa, kecuali hanya sekedar berlalu-lalang.
Itulah sebuah kehidupan yang meng-gelorakan qalbu dan akal, aqidah yang menyinari jiwa, hingga terciptalah seso-sok diri yang penuh hidayah dan cahaya.
“Dan apakah orang yang sudah mati ke-mudian dia Kami hidupkan dan Kami be-rikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya” [QS. al-An’ām (6): 122]
Itulah aqidah yang menuntun akal, mengarahkan gerak dan kerja, mencegah penyimpangan dan pemalsuan, menjaga kemampuan dan potensi. Saat seseorang mampu menata fikrahnya dengan lurus, menentukan ruang gerak pencapaian akalnya serta mencegah sesuatu yang yang tak sanggup dipikirkan dan dijang-kaunya, saat itulah dia telah mampu mem-potensikan daya akalnya untuk bekerja sesuai ruang lingkupnya. Dengan itulah, dia akan mampu mewujudkan hasil-hasil besar sunnah rabbāniyyah di alam semesta, di alam sosial, kebudayaan, dan dalam rentetan berbagai peristiwa sejarah.
Itulah kehidupan yang menghidup-kan ruh dan jasad, tanpa terpisah atau berbenturan. Di dalam Islam, penyiksaan tubuh bukan jalan menuju ketinggian dan kesucian ruhani. Perhatian terhadap ru-hani tidak berarti bahwa seorang mukmin harus menolak dan menyingkirkan apa saja yang dihalalkan dan diharamkan oleh Allah swt, bukan pula dengan menolak hak kehidupan dan perhiasan yang dike-luarkan Allah swt untuk hamba-hamba-Nya.
“Dan carilah pada apa yang telah dianuge-rahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melu-pakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) seba-gaimana Allah telah berbuat baik kepadamu….” [QS. al-Qashash (28): 77]
Itulah pelajaran yang diberikan Nabi saw kepada para shahabatnya, yang ditanamkan dalam kalbu dan jiwa mereka, sebuah pela-jaran dan pengajaran yang takkan terlupa.
Anas bin Malik berkata: Tiga orang laki-laki datang ke rumah isteri Rasulullah saw untuk bertanya tentang peribadatan beliau. Saat mereka sudah dikhabarkan tentang iba-dah beliau tersebut, mereka merasakan mi-nim sekali ibadah mereka jika dibandingkan dengan beliau. Mereka berkata: “Siapakah kita ini, jika dibandingkan dengan Nabi saw yang telah diampuni dosa-dosanya yang lalu dan yang kemudian?”. Lalu, salah seorang dari mereka berkata: “Saya akan shalat malam selama-lamanya”. Yang lain berkata: “Saya akan shaum sepanjang tahun tidak berbuka”. Dan yang lain berkata pula: “Saya akan me-ninggalkan wanita, tidak menikah selama-lamanya”. Lalu, datanglah Rasulullah saw dan berkata: “Kalian yang berkata ini dan itu? Demi Allah, aku adalah orang yang paling takut dan bertaqwa kepada Allah swt, akan tetapi aku shaum dan berbuka, aku shalat dan tidur serta menikahi wanita. Barangsiapa membenci sunnahku, maka bukanlah go-longanku” (HR. al-Bukhāriy dan Muslim)
Tidak akan terwujud kehidupan kecuali dengan wahyu al-Rahmān swt.
“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apa-kah al-Kitab (al-Qur’an) dan tidak pula me-ngetahui apakah iman itu, tetapi Kami men-jadikan al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tun-juki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesung-guhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Yaitu) jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan” [QS. al-Syūrā (42): 52-53]
Allah swt menamakan wahyu yang diturunkan kepada Rasul-Nya dengan ruh, karena di atasnyalah kehidupan ha-kiki terwujud. Dia namakan juga wahyu-Nya dengan nūr (cahaya), karena di da-lamnya mengandunghidāyah (petunjuk). Serta menamakannya dengan syifā (obat penawar).
“Yang mengutus Jibril dengan (membawa) perintah-Nya kepada siapa yang dikehen-daki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, supaya dia memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (hari kiamat)” [QS. al-Mu’min (40): 15]
“Katakanlah: al-Qur’an itu adalah petun-juk dan penawar bagi orang-orang yang beriman [QS. Fushshilat (41): 44]
Oleh karena itu, tidaklah aneh jika Nabi saw mengumpamakan iman dan aqidah yang diwahyukan kepadanya sebagai hujan yang diturunkan ke tanah yang gersang, hingga tanah itupun tum-buh subur. Rasulullah saw bersabda:
Perumpamaan hidayah dan ilmu yang diutuskan Allah kepadaku adalah seperti hujan lebat yang menimpa selahan tanah. Di antara tanah itu ada yang subur sekali yang mampu menampung air, lalu me-numbuhkan rerumputan dan tunas-tu-nas pohon yang banyak. Ada pula tanah gersang yang hanya menampung air un-tuk minum manusia, untuk pengairan dan pertanian. Serta ada pula tanah mati yang tidak dapat menampung air dan juga tum-buh-tumbuhan. Itulah perumpamaan orang yang faqih dalam agama Allah dan mem-berikan manfaat dengan wahyu yang di-turunkan Allah kepadaku, maka diapun berilmu dan mengajarkan ilmunya. Dan perumpamaan orang yang tidak mengang-kat kepalanya sedikitpun dan tidak mene-rima hidayah Allah yang aku diutus kare-nanya” (HR. al-Bukhāriy dan Muslim)
Itulah dakwah menuju aqidah, Islam dan iman. Allah swt menghidupkan me-reka dengan Islam dan iman setelah me-reka mati dalam kekufuran.
Itulah dakwah menuju kebenaran dan kekuatan. Kebenaran yang menjadi landasan didirikannya langit dan bumi, karena Allah swt tidak menciptakan keduanya kecuali dengan kebenaran.
“Dan tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan benar-benar” [QS. al-Hijr (15): 85]
Kitab yang diturunkan oleh Allah swt ke-pada penutup para nabi dan rasul-Nyapun adalah kebenaran. Karena Dia  menurunkan-nya dengan kebenaran.
“Dan apa yang telah Kami wahyukan kepa-damu yaitu al-Kitab (al-Quran) itulah yang benar” [QS. Fāthir (35): 31]
“Dia menurunkan al-Kitab (al-Qur’an) kepa-damu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya” [QS. Āli ‘Imrān (3): 3]
Syari`at yang diturunkan Allah swt  ke-pada Rasulullah saw adalah kebenaran dan keadilan. Allah swt sempurnakan syari`at-Nya dan dianugerahkan kepada seluruh makh-luk-Nya, agar mereka menegakkan kebenaran dan keadilan di antara mereka.
“Dialah yang mengutus Rasulnya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama” [QS. al-Shaff (61): 9]
“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama me-reka al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan……. [QS. al-Hadīd (57): 25]
Jika kebenaran harus memiliki kekuatan yang dapat melindungi dan dapat menying-kirkan berbagai rintangan dalam perjalanan membawa dan menyampaikannya kepada ummat manusia, maka atas dasar perkataan al-Fāruq ‘Umar adalah bahwa bicara kebe-naran tidak akan berarti tanpa ada yang men-sukseskannya. Sesungguhnya seruan kehi-dupan ini adalah seruan kekuatan dan jihad yang menjadi sebab Allah swt muliakan um-mat ini setelah tertimpa kehinaan, Allah swt kuatkan setelah meng-alami kelemahan. Bendera jihad fī sabīlillah untuk mengik-rarkan hak-hak uluhiyyah Allah swt di muka bumi, memberikan kebahagiaan ummat manusia terhadap agama-Nya serta memerdekakan mereka dari pengab-dian kepada selain-Nya. Mereka adalah hamba-hamba Allah swt, maka saat itulah mereka akan diberikan anugerah kemer-dekaan hakiki dan‘izzah (kemuliaan) yang sempurna. Jihad adalah jalan kemuliaan dan kehormatan bagi ummat, jalan kehi-dupan yang hakiki.
Sampai-sampai sekalipun sang mu-jahid mati dan mencapai syahid di jalan dakwah, akan tetapi di sisi Allah swt me-reka tetap berada dalam kehidupan (se-kalipun di kubur-kubur mereka) serta akan memperoleh rizki yang indah yang tak dapat diukur dengan rizki dunia. Mereka adalah orang-orang yang memperkenan-kan seruan Allah swt dan seruan Rasul-Nya saw.
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapat rizki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka. Dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka. Bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka ber-girang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman” [QS. Āli ‘Imrān (3): 169-171]
Dahulu, kaum muslimin hidup di te-ngah-tengah hakekat tersebut dengan si-tuasi dan perasaan mereka yang menda-lam. Di sisi mereka, jihad adalah kehi-dupan hakiki. Bukti-bukti sejarah tentang mereka sungguh tidak terhitung. ‘Umar yang menyaksikan langsung pertempuran antara Romawi dan Syam, serta seruan al-Shiddiq untuk jihad merupakan ajakan untuk hidup hakiki yang mulia.
Abu Bakar mengumpulkan para penase-hatnya, di antaranya beliau berkata: “Aku ber-maksud mengutus pasukan perang menuju pertem-puran dengan Syam, agar Allah memperkuat kaum muslimin, menjadikan kalimat-Nya tinggi, di samping kaum muslimin akan mendapatkan ba-nyak bagian. Barangsiapa yang mati, maka dia mati syahid, dan apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti. Dan barang-siapa yang masih hidup, maka dia hidup membela agamanya dan akan meraih pahala mujahidin dari Allah”.
Semuanya ikut berbicara, ‘Umar, Abdur-rahman bin `Auf, `Utsman bin `Affan, Thalhah, al-Zubayr, Sa`ad, Abu `Ubaidah, Sa`id bin Zaid dan seluruh yang hadir, semuanya se-pakat dengan Abu bakar tentang prinsip ke-merdekaan Syam.
Persatuan tercapai, Abu Bakar menyatu-kan ummat, lalu dia memuji Allah swt dan menyerukan seruan jihad. Manusiapun diam, tak ada satupun yang mampu menjawabnya, karena begitu hebatnya pasukan Romawi, yang mereka tahu betapa banyaknya jumlah dan dahsyatnya kekuatan mereka. ‘Umarpun berdiri dan berkata: “Hai seluruh kaum mus-limin! Mengapa kalian tidak menjawab khalifah Rasulullah yang menyeru kalian untuk sesuatu yang menghidupkan kalian? Seandainya itu se-buah jarak yang dekat dan perjalanan yang sing-kat, tentu kalian akan segera berangkat
Kalimat al-Faruq itu keluar dari sumber cahaya, yaitu firman Allah swt:
“Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu” [QS. al-Anfāl (8): 24]
Itulah kehidupan hakiki di dalam syurga, sebuah negeri kehidupan, negeri yang me-mancarkan kehidupan hakiki yang abadi, setelah berpindah dari kehidupan dunia. Negeri akhirat adalah kenikmatan yang harus direbut oleh setiap orang serta jangan ridha untuk digantikan dengan selainnya dan ja-ngan mencari jalan untuk melepasnya. Untuk itu, seseorang harus memiliki per-siapan dan perbekalan untuk mencapai akhir perjalanannya. Dengan begitu, akan terbuka cakrawala mulia di hadapannya, cita-cita yang jauh hingga mencapai pun-cak kemuliaan dan keima-nan.
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini mela-inkan senda-gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebe-narnya kehidupan, kalau mereka menge-tahui” [QS. al-‘Ankabūt (29): 64]
Adapun orang-orang yang enggan memperkenankan seruan Allah swt dan Rasul-Nya saw, berarti menolak kehi-dupan mulia yang layak bagi kemanu-siaannya. Tidak ada yang dapat mereka raih kecuali kerendahan, hasil yang akan mereka dapatkan hanyalah kehancuran dan tempat kembali mereka adalah sik-saan dan hinaan.
“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menukar nikmat Allah dengan keka-firan dan menjatuhkan kaumnya ke lem-bah kebinasaan, yaitu neraka Jahannam; mereka masuk ke dalamnya; dan itulah seburuk-buruknya tempat kediaman” [QS. Ibrāhīm (14): 28-29]
Alangkah ruginya mereka yang lebih mementingkan dunia yang fana diban-dingkan akhirat kekal selamanya. Alang-kah besar kesesatan mereka yang mem-batasi alam wujud dengan hanya apa yang mampu mereka jangkau dengan panca inderanya yang terbatas di dunia. Mereka mengira wujud mereka hanya terbatas di dalamnya, tidak bekerja un-tuk selainnya: Manusia diciptakan untuk kekal, maka sesatlah ummat yang mengira akan wafat.
Mereka hanya pindah dari negeri amal, untuk sampai ke negeri celaka atau ba-hagia.
Seluruh makna kehidupan yang kita temukan di dalam ayat yang mulia ini, berupa iman, kebenaran, jihad atau syurga di negeri akhirat… Itulah semua yang dimak-sud dan dituju, tidak ada perbedaan untuk itu semua, semuanya hanya ibarat-ibarat yang memiliki satu hakekat. Yaitu: kokoh berdiri dengan wahyu yang dibawa Rasulullah saw, baik dzahir maupun bathin. Ungkapan-ung-kapan yang tampaknya berbeda, bukanlah perbedaan kontradiktif, tetapi hanya perbe-daan redaksi.
Imam Ibnu al-Qayyim berkata:
Ayat tersebut mengandung semua makna yang disebutkan. Sesungguhnya iman, Islam, al-Qur`an dan jihad akan menghidupkan hati dengan kehidupan yang baik dan sempurna di dalam Syurga. Rasul adalah penyeru iman dan syurga serta penyeru kehidupan di dunia dan di akhirat
Wahai saudaraku kaum muslimin!
Apakah engkau siap menyongsong dak-wah mulia yang dianugerahkan Allah swt kepadamu? Agar engkau gapai kehidupan mulia. Maka, jadikanlah dengan sikap dan perkenanmu terhadap dakwah itu sebagai rambu-rambu perjalanan.
Apabila dakwah itu disampaikan untuk yang kedua kalinya, apakah engkau siap me-nyongsongnya?
Engkau tak memiliki pilihan… jika engkau seorang mukmin…  Mau iman… atau bukan iman… mau memperkenankan dan me-nyongsongnya… ataukah menolak?
Pasti bukan seorang mukmin yang menolak seruan Allah swt dan tidak mem-perkenankannya atau menjadikannya hanya lewat di belakang telinga. Memper-kenankan Allah swt dan Rasul-Nya saw adalah ciri hakiki dan simbol amali kei-manan.
“Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menga-dili diantara mereka ialah ucapan “Kami mendengar dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung” [QS. al-Nūr (24): 51]
Seorang mukmin adalah seorang yang menyambut panggilan iman dengan se-gera.
“Ya Rabb kami, sesungguhnya kami men-dengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Rabb-mu”; maka kamipun beriman. Ya Rabb kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami ke-salahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti. Ya Rabb kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan pe-rantaraan rasul-rasul Engkau. Dan ja-nganlah Engkau hinakan kami di hari kia-mat. Sesungguhnya Engkau tidak menya-lahi janji” [QS. Āli ‘Imrān (3): 193-194].

Pidato Berbakti kepada Kedua Orang Tua

Assalamualaikum Wr. Wb.
Bapak-bapak, ibu-ibu serta saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang saya hormati.
Segala puji bagi Allah yang menguasai seluruh alam. Rahmat dan salam semoga tetap dilimpahkan kepada seorang Nabi yang tidak akan ada Nabi sesudahnya, Nabi Muhammad Saw. , kepada keluarga dan sahabatnya seluruhnya.
Setiap manusia sudah pasti memiliki orang tua. Tidak satupun manusia yang lahir tanpa orang tua. Kita pun menyadari bahwa orang tua berkuah keringat, siang dan malam banting tulang, memeras pikiran, sekuat tenaga memperjuangkan agar anaknya bisa hidup seperti layaknya anak-anak yang lain. Karena itu saat ini ijinkan saya untuk menyampaikan betapa penting berbakti kepada orang tua.
Rekan-rekan dan para hadirin yang saya banggakan.
Alloh yang Maha Bijaksana telah mewajibkan setiap anak untuk berbakti kepada orang tuanya. Bahkan perintah untuk berbuat baik kepada orang tua dalam Al Quran digandengkan dengan perintah untuk bertauhid sebagaimana firman- Nya, Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaikbaiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ah dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil. (Al Isro: 23)
Rekan-rekan dan para hadirin yang saya cintai.
Alangkah lebih baik jika kita memahami arti Penting dan Kedudukan Berbakti Pada Orang Tua. Berbakti kepada kedua orang tua merupakan salah satu amal sholih yang mulia bahkan disebutkan berkali-kali dalam Al Quran tentang keutamaan berbakti pada orang tua. Alloh Taala berfirman:
Sembahlah Alloh dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak. (An Nisa: 36).
Di dalam ayat ini perintah berbakti kepada dua orang tua disandingkan dengan amal yang paling utama yaitu tauhid, maka ini menunjukkan bahwa amal ini pun sangat utama di sisi Alloh Azza wa Jalla. Begitu besarnya martabat mereka dipandang dari kacamata syariat. Nabi mengutamakan bakti mereka atas jihad fisabilillah, Ibnu Masud berkata: Aku pernah bertanya kepada Rosululloh, Amalan apakah yang paling dicintai Alloh? Beliau menjawab, mendirikan sholat pada waktunya, Aku bertanya kembali, Kemudian apa? Jawab Beliau, berbakti kepada orang tua, lanjut Beliau. Aku bertanya lagi, Kemudian? Beliau menjawab, Jihad di jalan Alloh. (HR. Al Bukhori no. 5970).
Demikian agungnya kedudukan berbakti pada orang tua, bahkan di atas jihad fi sabililllah, padahal jihad memiliki keutamaan yang sangat besar pula.
Rekan-rekan dan para hadirin yang saya mulyakan.
Janganlah sekali-kali kita berbuat durhaka kepada orang tua. Ingatlah begitu dahsyatnya ancaman bagi siapapun yang durhaka kepada orang tua.Wahai saudaraku, Rosululloh menghubungkan kedurhakaan kepada kedua orang tua dengan berbuat syirik kepada Alloh. Dalam hadits Abi Bakrah, beliau bersabda: Maukah kalian aku beritahukan dosa yang paling besar ? para sahabat menjawab, Tentu. Nabi bersabda, (Yaitu) berbuat syirik, duraka kepada kedua orang tua. (HR. Al Bukhori)
Membuat menangis orang tua juga terhitung sebagaa perbuatan durhaka, tangisan mereka berarti terkoyaknya hati, oleh polah tingkah sang anak. Ibnu Umar menegaskan: Tangisan kedua orang tua termasuk kedurhakaan yang besar. (HR. Bukhari, Adabul Mufrod hlm 31. Lihat Silsilah Ahaadits Ash Shohihah karya Al Imam Al Albani, 2.898)
Alloh pun menegaskan dalam surat Al Isro bahwa perkataan uh atau ah terhadap orang tua saja dilarang apalagi yang lebih dari itu. Dalam ayat itu pula dijelaskan perintah untuk berbuat baik pada orang tua. Sekarang kita ketahui bersama apa arti penting dan keutamaan berbakti pada orang tua. Kita ingat kembali, betapa sering kita membuat marah dan menangisnya orang tua? Betapa sering kita tidak melaksanakan perintahnya? Memang tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Alloh, akan tetapi bagaimana sikap kita dalam menolak itupun harus dengan cara yang baik tidak serampangan. Bersegeralah kita meminta maaf pada keduanya, ridho Alloh tergantung pada ridho kedua orangtua.
Demikian yang dapat saya sampaikan. Mohon maaf jika ada perkataan yang tidak berkenan. Akhirul kalam wabillahit taufiq walhidayat wassalamu alaikum warohmatullohi wabarokaatuhu.

Pidato dalam rangka Memperingati Hari Kartini (21 April)

Assalamualaikum Wr. Wb.
Bapak-bapak, ibu-ibu serta saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang saya hormati.
Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT kaerena atas limpahan rahmat, hidayat serta inayat-Nya kita semua masih dapat melaksanakan perintah-perintah Allah serta mematuhi perintah-perintah yang digariskan Republik Indonesia.
Ibu-ibu serta hadirin sekalian yang berbahagia.
Kita sebagai bangsa Indonesia khususnya kaum ibu-ibu atau kaum wanita, hari ini tepatnya yang selalu di peringati setiap tanggal 2 Mei, merupakan hari kebangkitan jiwa kaum wanita Indonesia, yang dipelopori oleh R.A Kartini. Raden Ajeng Kartini telah berhasil menggelorakan gagasan kemanusian wanita, dan menggungat hak asasi manusia,hak-hak persamaan dan kemerdekaan untuk hidup bermasyarakat dan menikmati kebahagaiaan hidup dan kehidupan selaku anugrah kepada segenap manusia, apakah ia seorang laki-laku ataupun perempuan. Karena kesuksesan perjuangannya di tengah-tengah masyarakat bangsa Indonesia, maka kini hari lahirnya R.A Kartini diperingati dan dirayakan untuk diteladani dan membina, masyarakat dan bahagia. Lebih-lebih dewasa ini dimana kaum wanita telah hidup setara dan sejajar dengan kaum laki-lakinya. Ini bisa kita lihat dalam bidang apa saja yang dilakukan oleh kaum laki-laki, wanita pun turut ikut andil. Dari yang jadi pesuruh sampai kepada menjadi menteri, duta besar dan lain sebagainya.
Saudara-saudara, khususnya kaum ibu-ibu yang saya hormati. Selanjutnya, bagaimanakah fungsi kedudukan kaum wanita menurut ajaran Islam. Dalam QS. Al-Baqarah ayat 228, Allah menjelaskan :
Artinya : Kaum wanita itu mempunyai dan kewajiban yang sama dengan kaum pria.
Dengan memperhatikan firman Allah tersebut jelaslah bahwa agama Islam memberikan kedudukan dan perhatian yang sebaik-baiknya terhadap kaum wanita. Juga agama Islam memberikan hak an kewajiban yang sama terhadap kaum wanita dengan kaum prianya, sesuai dengan alam dan fitrahnya masing-masing.
Misalnya saja kaum wanita dalam pandangan Islam menjadapat jaminanhak milik, kaum wanita berhak untuk mendapatkan pendidikn dan pengajaran, berhak pula untuk mengeluarkan pendapat dan saran dan lain sebagainya.
Di dalam hadits Nabi menyatakan :
Kaum wanita itu adalah soko gurunya (tiang) Negara, kalau wanitanya baik 9dalam arti terdidik, budi pekertinya baik), maka Negara pun akan menjadi baik pula.
Hadirin sekalian yangberbahagia.
Maka kita di dalam memperingati hari R.A Kartini tahun ini, marilah kita tingkatkan pengabdian kepada Tuhan Ynag Maha Esa, kita tingkatkan pula pengabdian kepada nusa dan bangsa juga kita lestarikan cita-cita luhur R.A Kartini sekaligus mencetak kader-kader kartini baru.
Demikian pidato/sambutan dari saya dalam rangka memperingati hari kartini, semoga bermanfaat bagi kita semua, khususnya bagi kaum remaja putrid sebagai generasi bangsa, penerus cita-cita R.A Kartini.
Terimaksih atas segala perhatiannya dan mohon maas atas segala kekurangan dan kekhilafanya. Akhirul kalam wabillahit taufiq walhidayat wassalamu alaikum warohmatullohi wabarokaatuhu.

Pidato dalam rangka Memperingati Hari Pendidikan Nasional (2 Mei)

Assalamualaikum Wr. Wb.
Bapak-bapak, ibu-ibu serta saudara-saudara sekalian yang saya hormati.
Ucapan tahmid dan tasyakur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena dengan karunia-Nya kita semua dapat berkumpul di tempat ini guna memperingati hari Pendidikan Nasional yang tepatnya diperingati setiap tanggal 2 Mei.
Hadirin sekalian yang berbahagia.
Pendidikan bagi suatu bangsa yang sedang berkembang atau yang sedang maju, adalah merupakan suatu hal yang sangat mendasar, karena hal itu menyangkut kualitas suatu bangsa. Sebab dengan pendidikan berarti suatu bangsa itu telah mempersiapkan kader-kader atau generasi-generasi bangsa siap pakai, sanggup meneruskan cita-cita bangsa Indonesia yang telah dirintis oleh bapak-bapak pendahulu kita, yang berdasarkan pancasila dan UUD 1945.
Kalau kita lihat dalam UUD 1945 alinea ke empat, disana dijelaskan bahwa : pemerintah Negara Indonesia berkewajiban mencerdaskan kehidupan bangsa. Demikian pula pasal 31 UUD 45 ayat 1 berbunyi : Tiap-tiap warga Negara berhak untuk mendapatkan pengajaran.
Dengan pendidikan menjadikana manusian itu bisa mengetahui mana yang dapat mendatangkan manfaat dan mana yang mendatangkan madlorot. Dengan pendidikan itu pula sebagai pemisah antara orang yang jahil/bodoh dengan orang yang alim/pandai. Dan dengan pendidikan pula manusia akan menduduki derajat yang tinggi atau ditinggikan derajatnya oleh Tuhan. Salah satu firman Allah SWT QS. Al-Mujadalah ayat 11.
Artinya : Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Hadirin sekalian yang berbahagia.
Pemerintah Indonesia dalam UUD 1945 telah mencanangkan wajib belajar atas warga negaranya sejak berusia 7 tahun. Maka dalam Islam sudah beberapa abad yang silam, sejak Rasulullah saw masih hidup telah mencanangkan wajib belajar atas umatnya, agar umatnya menjadi umat yang berpengetahuan, berilmu, menjadi umat yang tidak terbelenggu dengan kebodohan.
Maka di dalam kita memperingati hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei tahun ini marilah kita wujudkan dalam bentuk nyata dasar-dasar atu konsep-konsep bagi pendidik yang telah dicanangkan oleh Ki Hajar Dewantara sebagai tokoh Pendidikan Nasional, agar pendidikan yang telah di programkan oleh pemerintah dapat terwujud.
Marilah kita tingkatkan mutu belajar kita dalam menuntut ilmu, baik ilmu pengetahuan, agama, ataupun umum, ilmu yang berhubungan keduniawian dan keakhiratan. Sebab rosulullah saw menjanjikan kepada para penuntut ilmu dengan syurga.
Demikian pidato saya dalam rangka menyambut hari pendidikan nasional, semoga bermanfaat bagi kita semua.
Sekian terimakasih atas segala perhatiannya, dan mohon maaf atas kekurangan serta kekhilafannya. Akhirul kalam, wassalamualaikum warohmatullahi wabarokaatuhu.

Pidato dalam Acara Halal Bihalal Idul Fitri

Assalamualaikum Wr. Wb.
Bapak-bapak, ibu-ibu dan kaum muslimat yang dimuliakan oleh Allah.
Pertama-tama pada kesempatan ini marilah kita mengucapkan puji dan tasyakur kehadirat Allah SWT karena dalam kesempatan kali ini kita masih diberi kesempatan hidup oleh Allah di permukaan bumi ini, sehingga pada kesempatan kali ini kita dapat berkumpul dengan saudara-saudara kita seiman dan seagama di tempat ini.
Selanjutnya sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan Nabi kita Muhammad saw karena beliaulah yang menyebarluaskan ajaran-ajaran Islam di tengah-tengah umatnya, sehingga dapat mengetahui mana sesuatu yang haq dan mana sesuatu yang bathil.
Hadirin sekalian yang berbahagia.
Selama satu bulan penuh kita telah menjalani ibadah puasa Romadlon. Selama satu bulan itu pula kita diwajibkan oleh Allah mengerjakan ibadah puasa. Dan selama itu pula kita telah diuji keimanan dan ketaqwaan. Adapun mengenai berhasil atau tidaknya ujian yang kita terima selama satu bulan penuh dalam romadlon itu, dapat dilihat implikasinya pada bulan-bulan berikutnya, misalnya pada bulan syawal. Sebagai contoh ringan saja, kalau selama dalam bulan Romadlon itu kita gemar membaca Al-Qur’an, kemudian di bulan lainnya kita masih gemar membaca Al-Qur’an, maka hal itu pertanda puasa kita itu telah membekas dalam hati kita. Begitu juga selama dalam bulan Romadlon itu kita gemar mengerjakan berbagai macam solat sunat, kemudian di bulan lainnya kita masih gemar mengerjakan, maka hal itu pula sebagai pertanda puasa Romadlon kita membekas dan berpengaruh terhadap kehidupan sehari-hari kita di bulan lainnya. Sebaliknya, kalau amalan-amalan kita di bulan selain Romadlon itu menurun dila dibandingkan dengan bulan Romadlon, berarti puasa Romadlon kita itu tidak membawa pengaruh dan tidak membekas dalam hati kita.
Dan kini telah memasuki bulan Syawal, berarti kita semua telah menjadi manusia yang suci bebas dari noda dan dosa, tentunya hal yang demikian itu diperuntukkan bagi orang-orang yang mempergunakan bulan Romadlon itu dengan sebaik-baiknya, misalnya mengerjakan puasa sebulan penuh berikut menjaga hal-hal yang membatalkan puasa, memperbanyak amalan-amalan kebajikan yang diridloi oleh Allah. Ibarat kita sekarang ini seperti bayi yang baru lahir dari kandungan sang ibu, yang bersih suci, tidak membawa dosa apapun.
Di samping hubungan kita dengan Allah itu bersih dan suci dari dosa-dosa apapun sebagai buah hasil dari puasa di bulan Romadlon kita itu, maka terhadap sesame manusia pun hendaknya kita jalin hubungan yang baik, Hablun minallahi wahablun minannaas, hubungan manusia dengan Allah dan begitu pula dengan sesama manusia.
Sebagai upaya perwujudanhubungan antar sesama manusia itu baik, dalam arti yang seluas-luasnya, tidak ada rasa dendam, tidak ada rasa saling mencurigai, saling maaf memaafkan, maka pada hari ini kita mengasakan Halal Bihalal, dengan tujuan pokok kita memupuk hubungan silaturahmi, memperkuat ukhuwah Islamiyah yang diwarnai dengan maaf memaafkan, saling asih asuh.
Hadirin sekalian yang berbahagia.
Banyak sekali manfaat yang kita petik dari acara halal bihalal ini, diantaranya yang amat penting bagi kita ialah terciptanya ukhuwah Islamiyah, tergalangnya persatuan dan kesatuan umat, dan sirnalah segala macam dendam dan sakit hati sesama manusia, bila keduanya saling melupakan hal-hal yang pernah terjadi pada masa lampau, lalu diiringi dengan berjabat tangn sebagai pertanda keikhlasan hari dalam memaafkan atas kesalahan-kesalahannya.
Acara halal bihalal yang kita adakan ini adalah merupakan sarana yang paling tepat dan paling efisien untuk menggalang persatuan dan kesatuan mendekatkan saudara-saudara kita salkan berjauhan tempat kediamannya atau berjauhan karena persengketaan yang telah di perbuat. Mudah-mudahan acara halal-bihalal yang kita adakan ini benar-benar mendapat ridlo dari Allah SWT.
Terimakasih atas segala perhatiannya, dan mohon maaf atas segala kekuarangan dan kesalahannya. Akhirul kalam wabillahit taufiq walhidayat wassalamu alaikum warohmatullohi wabarokaatuhu.

Pidato dalam Acara Memperingati Nuzulul Quran

Assalamualaikum Wr. Wb.
Bapak-bapak, ibu-ibu dan kaum muslimat yang dimuliakan oleh Allah.
Tiada sepatah kata pun yang pantas kita ucapkan untuk mengawali pembicaraan kita ini kecuali ucapan tahmid dan tasyakur kehadirat Allah SWT karena hanya limpahan rahmat, hidayat serta inayatnya kita semua dapat hadir di tempat yang di muliakan ini tanpa ada suatu halangan apapun dalam rangka peringatan nuzulul quran.
Hadirin sekalian yang berbahagia.
Nuzulul Qur’an atau turunnya Al-Qur’an yang merupakan kumpulan firman-firman Allah sekaligus merupakan peraturan-peraturan atau garis-garis besar haluannya Islam dalam rangka mencari ridlo Allah SWT adalah jatuh pada tanggal 17 Romadlon.
Para ahli tafsir kenamaan seperti Thabary telah menyatakan bahwa ketika Nabi Muhammad berusia 41 tahun (621 M) berada dalam gua Hira (yang sekarang bernama Jabal Nur) wahyu pertama turun disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad secara pasti mengenai tanggal turunnya Al-Qur’an pada tanggal malam 17 Romadlon. Hal ini berdasar keterangan dari firman Allah SWT :
Artinya : Kami turunkan (Al-Qur’an) kepada hamba Kami pada hari pemisahan, yaitu pada hari kedua golongan bertemu (berperang). ( QS. Al-Alfal : 41)
Yang dimaksud dengan yaumal taqol jamaan (pada hari kedua golongan bertemu) ialah permulaan perang Badar, yang mulai pecah pada malam 17 Romadlon tersebut. Pada waktu itu dua pasukan kaum muslimin mulai bertempur berhadap-hadapan, yaitu antara pasukan kaum muslimin dengan pasukan kaum quraisy. Dengan merpergunakan istimbath hukum, maka para ahli tafsir telah sepakat bahwa turunnya wahyu pertama adalah pada malam 17 Romadlon.
Hadirin sekalian yangberbahagia.
Sekarang yang menjadi persoalan kita, apa maksudnya Al-Qur’an itu diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Tiada lain hanyalah untuk menjadi pedoman hidup di dunia ini untuk menuju hidup yang lebih langgeng di akhirat kelak, sekaligus menjadi petunjuk dan pembeda anatar yang salah dan yang benar. Sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah ayat 185 :
Artinya : Dalam bulan Romadlon telah diturunkan Kitab suci Al-Qur’an untuk menjadi pimpinan (petunjuk) bagi manusia dan keteranagn mengenai petunjuk kebenaran itu, dan menjadi pemisah antara yang benar dan yang salah. (QS. Al-Baqarah : 185).
Hadirin sekalian yang berbahagia.
Berangkat dari itu, maka kita di dalam memperingati hari nuzulul quran atau turunnya Al-Qur’an yang paling penting hikmah yang kita ambil adalah kita dalam mengarungi hidup di dunia ini hendaknya disesuaikan dengan aturan-aturan Al-Qur’an, kehendak nafsunya disesuaikan dan diperturutkan dengan kandungan Al-Qur’an. Hendanya Al-Qur’an itu kita jadikan pedoman hidup. Jadikan rujukan atau acuan di dalam hidup yang serba sesuai dengan perkembangan zaman kita. Dari sanalah kita akan memperoleh jawaban yang jelas dan lurus tidakboleh ditawar-tawar lagi dalam rangka mendambakan hidup bahagia di dunia dan di akhirat.
Demikianlah pidato atau sambutan dari saya, kurang lebihnya dan kekhilafannya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Terimakasih atas segala perhatiannya
Akhirul kalam wabillahit taufiq walhidayat wassalamu alaikum warohmatullohi wabarokaatuhu.

Pidato dalam Menyambut Bulan Romadlon

Assalamualaikum Wr. Wb.
Bapak-bapak, ibu-ibu dan kaum muslimat yang dimuliakan oleh Allah.
Puji syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat dan nikmatnya kita semua masih dipertemukan oleh-Nya di bulan suci, bulan yang penuh berkah dan penuh ampunan, yaitu bulan suci Romadlon.
Selanjutnya sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan Nabi Muhammad saw karena dari beliaulah kita semua mengetahui akan ajaran-ajaran Islam dengan sebenarnya sehingga kita bisa membedakan mana yang haq dan mana yang bathil.
Hadirin sekalian yang berbahagia.
Sebentar lagi kita akan bertemu dengan bulan suci Romadlon, dimana seluruh umat Islam dimana saja berada diwajibkan untuk mengerjakan ibadah puasa.
Bulan Romadlon adalah bulan yang mulia, bulan yang suci yang penuh dengan rahmat dan ampunan Allah SWT. Untuk itu marilah kita sambut bulan Romadlon ini dengan hati yang ikhlas, dan rasa gembira yang sangat dalam, karena bulan Romadlon adalah bulan panen amal kebajikan untuk bekal hidup di akhirat kelak.
Dalam sebuah hadits Rasulullah saw telah menyatakan, bahwa dunia itu adalah tempat menahan sebagai lading bagi akhirat. Sabda Rasulullah saw ini menunjukan atau menggambarkan bahwa lading yang subur untuk menanam amal kebajikan ialah di bulan Romadlon.
Para sahabat Nabi Muhammad sangat bergembira apabila menyambut datangnya bulan Romadlon , senang dalam arti yang sesungguhnya, adalah rasa syukur, dan kesedihan yang mendalah jika bulan Romadlon telah berlalu, lebih sedih hatinya bila mereka ditinggalkan kedua orang tuanya.demikianlah sesungguhnya umat Islam yang hatinya penuh dengan keimanan dan ketaatan memenuhi panggilan Illahi. Dan hendaknya demikian sikap kita sebagai umat Nabi Muhammad saw di dalam menyambut kedatangan bulan Romadlon.
Hadirin sekalian yang berbahagia.
Dalam menyambut kedatangan bulan Romadlon ada beberapa hal utama yang harus dipersiapkan agar benar-benar Romadlon itu semarak dan berkesan di hati. Diantarnya hal-hal yang harus dipersiapkan ialah :
Merenungi diri. Maksudnya kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan baik dengan sengaja atau tidak, kini hendaknya ditutupi dan disusul dengan perbuatan-perbuatan yang baik, dengan memperbanyak istighfar, agar diri kita terlepas dari dosa.
Berbuat baik atau memperbaiki hubungan dengan kedua orang tuanya. Mungkin selama hubungan kita dengan kedua orang tua ada hal-hal yang mengecewakan atau menyakitkan hati, maka dengan datangnya bulan Romadlon kita mohon keihklasannya untuk mengampuninya.
Mengadakan hubungan silaturahmi dengan sanak saudara, teman-teman, terlebih hubungan dengan sesama muslim.
Selain semua itu sangatlah penting untuk membersihkan yang bersifat lahiriyah dan jasmaniyah misalnya membersihkan pekarangan, lingkungan rumah, membersihkan mesjid dan musholla dalam rangka mencari ridlo Allah SWT.
Marilah kita sambut kedatangan bulan Romadlon ini dengan ikhlas hati. Karena puasa Romadlon itu adalah merupakan panggilan Illahi yang ditujukan kepada orang-orang yang beriman.
Demikian pidato saya dalam rangka menyambut kedatangan bulan Romadlon, ada kurang lebihnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Akhirul kalam, uushikum wanafsii wa-iyyaaya bitaqwallohi, wassalamu alaikum warohmatullohi wabarokaatuhu.